Sabtu, 06 September 2008

Kemuliaan hanya bagi Nya


Mungkin tidak akan ada satu orang pun dalam kelompok sel (komsel) PDSK (Persekutuan Doa Supermal Karawaci) pada hari itu (5 Sept 2008) yang akan mengira kalau topik diskusi akan bergulir sejauh itu. Dari Topik pembahasan mengenai "Hati Yang Gembira Adalah Obat" yang merupakan topik khotbah pada Kebaktian PDSK 19 Agustus 2008 lalu.

Tetapi itulah dinamika kelompok kecil yang terkadang topik pembahasan bisa saja mengalir ke topik lain.

Sebenarnya ada banyak hal terutama mengenai pergumulan masing-masing kami pada waktu itu, mulai dari hal pekerjaan, keluarga dan tentunya tidak lupa mengenai teman hidup terutama bagi teman-teman yang masih single. Tetapi ada satu topik yang panjang lebar dibahas dalam pertemuan ini yaitu mengenai "Batak dan adat istiadatnya" dan memang dari 7 orang ada 4 orang dari kami yang berasal dari suku Batak. Panjang lebar dalam sharing itu kami membicarakan mengenai bagaimana sulitnya hidup sebagai orang Batak bila harus konsisten terhadap kebiasaan adat-istiadatnya terutama mengenai aturan paradaton yang sangat berat untuk bisa diikuti pada saat ini, sebagai contoh bagaimna ribet dan mahalnya acara dan biaya untuk pernikahan adat Batak dan bahkan untuk membahwa seorang cucu ke neneknya (Paebat ton pahompu - maaf mungkin penulisannya salah) saja harus dengan satu tatacara khusus dan kembali tentunya juga membutuhkan biaya yang lumayan besar, dan bahkan bagaimana sulit dan panjangnya proses yang harus dihadapi jika ada pernikahan campuran antara Batak dan bukan Batak.

Memang diantara kami orang Batak yang hadir pada saat itu tidak ada satupun yang memiliki pengalaman dalam "paradaton" Batak.

Sebenarnya secara pribadi saya sangat setuju dan salut dengan adat istiadat Batak terutama mengenai nilai kekerabatan yang sangat dijaga. Tetapi satu hal yang sangat sulit untuk saya terima adalah ada satu nilai "hasangapon" (kemuliaan dan kehormatan) yang selalu dicari. Bahkan tidak sering terjadi hanya karena sesuatu hal yang kecil dalam suatu acara adat karena hal tersebut diangap tidak menghormati suatu kerabat, bukan tidak mungkin hal ini akan menjadi masalah dan perdebatan serius. Bahkan hanya untuk mencari nilai hasangapon ini tidak jarang suatu acara adat dibuat begitu kompleksnya dengan melibatkan seluruh kerabat (bahkan dari luar kota) yang tentunya akan berujung kepda biaya yang besar pula.

Nah spirit inilah (spirit mencari hasangapon) yang sebenarnya harus dihindari, terutama bagi kita yang telah mengenal kasih karunia Tuhan. Bukankah sebenarnya kemuliaan itu hanya bagi Tuhan? Bukankan seharusnya dalam setiap hal termasuk perayaan yang kita lakukan harus untuk memuliakan Tuhan?. "Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya" (II Petrus 3:18). Biarlah kemuliaan hanya Bagi Allah.

Adat batak sebagai sebuah budaya, hasil budi dan daya manusia tetap saja tidak sempurna dan juga tentunya tidak semuanya salah atau bertentangan dengan Firman Tuhan dan untuk itulah tentunya kita sebagai orang Batak (yang bersuku Batak) telah terlahir sebagai orang Batak) harus bisa memberikan penerangan agar budaya ini tetap lestari tetapi harus sesuai dengan Firman Allah.

Bingkisan:
video lagu Rohani Batak (Marolop-olop tonding ki):

Tidak ada komentar: